KAIDAH KEBAHASAAN DALAM TEKS DESKRIPSI – BAHASA INDONESIA KELAS VII

KAIDAH KEBAHASAAN

TEKS DESKRIPSI

TANDA BACA

Tanda baca sangat besar pengaruhnya terhadap makna sebuah kalimat. Kesalah penggunaan tanda baca bisa menimbulkan salah tafsir atau kebingungan pembaca. Penggunaan tanda baca dalam teks juga telah diatur dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, seperti tanda (,), tanda titik (.), tanda petik (“…”), tanda hubung (-), dan tanda kurung [(…)].

Perhatikan beberapa kaidah penggunaan tanda baca berikut ini.

Tanda Titik (.)

  1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat pernyataan.
  2. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.

Catatan:

  • Tanda titik tidak dipakai pada angka atau huruf yang sudah bertanda kurung dalam suatu perincian.
  • Tanda titik tidak dipakai pada akhir penomoran digital yang lebih dari satu angka.
  • Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau angka terakhir dalam penomoran deret digital yang lebih dari satu angka dalam judul tabel, bagan, grafik, atau gambar.
  1. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu atau jangka waktu.
  2. Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, tahun, judul tulisan (yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru), dan tempat terbit.
  3. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang menunjukkan jumlah.

Catatan:

  • Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.
  • Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, ilustrasi, atau tabel.
  • Tanda titik tidak dipakai di belakang (a) alamat penerima dan pengirim surat serta (b) tanggal surat.

Tanda Koma (,)

  1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsru dalam suatu pemerincian atau pembilangan.
  2. Tanda koma dipakai sebelum kata penghubung, seperti tetapi, melainkan, dan sedangkan, dalam kalimat majemuk (setara).
  3. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimatnya.

Catatan:

Tanda koma tidak dipakai jika induk kalimat mendahului anak kalimat.

  1. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat, seperti oleh karena itu, jadi , dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun demikian.
  2. Tanda koma dipakai sebelum dan/atau sesudah kata seru, seperti o, ya, wah, aduh, atau hai, dan kata yang dipakai sebagai sapaan, seperti Bu, Dik, atau Nak.
  3. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.

Catatan:

Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung yang berupa kalimat tanya, kalimat perintah, atau kalimat seru dari bagian lain yang mengikutinya.

  1. Tanda koma dipakai di antara (a) nama dan alamat, (b) bagian-bagian alamat, (c) tempat dant anggal, serta (d) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
  2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
  3. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki atau catatan akhir.
  4. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan singkatan gelar akademis yang mengikutinya untuk membedakan dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
  5. Tanda koma dipakai sebelum angka desimal atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.
  6. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan atau keterangan aposisi.
  7. Tanda koma dapat dipakai di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat untuk menghindari salah baca/salah pengertian.

Tanda Titik Dua (:)

  1. Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan elngkap yang diikuti pemerincian atau penjelasan.
  2. Tanda titik dua tidak dipakai jika perincian atau penjelasan itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
  3. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
  4. Tanda titik dua dipakai dalam naskah drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
  5. Tanda titik dua dipakai di antara (a) jilid atau nomor dan halaman, (b) surah dan ayat dalam kitab suci, (c) judul dan anak judul suatu karangan, serta (d) nama kota dan penerbit dalam daftar pustaka.

Tanda Hubung (-)

  • Tanda hubung dipakai untuk menandai bagian kata yang terpenggal oleh pergantian baris.
  • Tanda hubung dipakai untuk menyambung unsur kata ulang.
  • Tanda hubung dipakai untuk menyambung tangg, bulan dan tahun yang dinyatakan dengan angka atau menyambung huruf dalam kata yang dieja satu-satu.
  • Tanda hubung dapat dipakai untuk memperjelas hubungan bagian kata atau ungkapan.
  • Tanda hubung dipakai untuk merangkai:
  • se– dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital (se-Indonesia, se-Jawa Barat);
  • ke– dengan angka (peringkat ke-2);
  • angka dengan –an (tahun 1950-an)
  1. kata atau imbuhan dengan singkatan yang berupa huruf kapital (hari-H, sinar-X, ber-KTP, di-SK-kan);
  2. kata dengan kata ganti Tuhan (ciptaan-Nya, atas rahmat-Mu);
  3. huruf dan angka (D-3, S-1, S-2); dan
  • kata ganti –ku, -mu, dan –nya dengan singkatan yang berupa huruf kapital (KTP-mu, SIM-nya, STNK-ku).

Catatan:

Tanda hubung tidak dipakai di antara huruf dan angka jika angka tersebut melambangkan jumlah huruf.

  1. Tanda hubung dipakai untuk merangkai unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa daerah atau bahasa asing.
  2. Tanda hubung digunakan untuk menandai bentuk terikat yang menjadi objek bahasan.

 

Tanda Tanya (?)

  1. Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.

Contoh:

  • Kapan Hari Pendidikan Nasional diperingati?
  • Siapa pencipta lagu “Indonesia Raya”?
  1. Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dibuktikan kebenarannya.

Contoh:

  • Monumen Nasional mulai dibangun pada tahun 1961 (?).
  • Di Indonesia terdapat 740 (?) bahasa daerah.

 

Tanda Seru (!)

Tanda seru dipakai untuk mengakhiri ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau emosi yang kuat.

Contoh:

  • Alangkah indhanya taman laut di Bunaken!
  • Mari kita dukung Gerakan Cinta Bahasa Indonesia!
  • Bayarlah pajak tepat pada waktunya!
  • Masa! Dia bersikap seperti itu?
  • Merdeka!

Tanda Petik (“…”)

  • Tanda petik dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain.

Misalnya:

“Merdeka atau mati!” seru Bung Tomo dalam pidatonya.

  1. Tanda petik dipakai untuk mengapit judul sajak, lagu, film, sinetron, artikel, naskah, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.

Misalnya:

Sajak “Pahlawanku” terdapat pada halaman 125 buku itu.

Marilah kita menyanyikan lagu “Maju Tak Gentar”!

  1. Tanda petik dipakai untuk mengapi istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.

Misalnya:

“Tetikus” komputer ini sudah tidak berfungsi.

Dilarang memberikan “amplop” kepada petugas!

Tanda Kurung [(…)]

  • Tanda kurung dipakai untuk mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.

Misalnya:

Dia memperpanjang surat izin mengemudi (SIM).

Warga baru itu belum memiliki KTP (kartu tanda penduduk).

  1. Tanda kurung dipakai untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian utama kalimat.
  2. Tanda kurung dipakai untuk mengapit huruf atau kata yang keberadaannya di dalam teks dapat dimunculkan atau dihilangkan.
  3. Tanda kurung dipakai untuk mengapit huruf atau angka yang digunakan sebagai penanda pemerincian.

Misalnya:

Faktor produksi menyangkut (a) bahan baku, (b) biaya produksi, dan (c) tenaga kerja.

PILIHAN KATA (DIKSI)

Pilihan kata (diksi) pada hakikatnya merupakan pemilihan kata yang tepat dan selaras dalam penggunaannya sehingga dapat memberikan kesan/makna/efek sesuai dengan harapan. Diksi akan sangat ditentukan oleh penguasaan perbendaharaan kata. Semakin banyak kosakata yang dimiliki seseorang, semakin tepat pula pilihan kata yang digunakan dalam teks.

Bahasa Indonesia termasuk salah satu bahasa di dunia yang sangat kaya kosakatanya. Ada banyak kata yang memiliki makna sama, seperti mati, meninggal, wafat, gugur, mampus, atau tewas, tetapi menimbulkan kesan atau efek yang berbeda-beda.

TATA KALIMAT

Salah satu ciri tata kalimat yang baik ditandai dengan penggunaan kalimat yang efektif. Kalimat efektif merupakan kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran pembicara atau penulis.

Ada beberapa ciri yang menandai adanya kalimat yang efektif, yaitu kesepadanan struktur, keparalelan bentuk, ketegasan makna, kehematan kata, keermatan penalaran, kepaduan gagasan, dan kelogisan bahasa.

KEPADUAN PARAGRAF

Kepaduan paragraf dalam sebuah teks berperang penting dalam menyampaikan gagasan dan perasaan sang penulis. Tanpa didukung hubungan antarparagraf yang padu, sebuah teks hanya akan membingungkan pembaca. Sebuah paragraf disebut padu jika didukung oleh keterpaduan bentuk (kohesi) melalui penggunaan kata-kata yang tepat. Penggunaan kata-kata yang sumbang dan kurang tepat akan menimbulkan tafsir ganda dan kesalahpahaman bagi pembaca. Sebuah paragraf bisa saja mengemukakan satu gagasan utama, tetapi belum tentu dikatakan kohesif jika kata-katanya tidak padu.

Selain itu, paragraf yang padu juga ditandai dengan adanya kekompakan antarkalimat. Kalimat-kalimatnya memiliki hubungan timbal balik serta secara bersama-sama membahas satu gagasan utama. Kalimat hendaknya tidak menyimpang dari gagasan utama ataupun meloncat-loncat.

 

Klik download untuk mendapatkan materi dalam bentuk ms.word.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *